IDEAS: Sekitar 33 Juta Pemudik Mulai Bergerak – PUNCAK ARUS MUDIK DIPERKIRAKAN BESOK

by Fajri Azhari on June 22, 2017
0 comments

NERACA.CO.ID (22 Juni 2017) – Jakarta-Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) memproyeksikan akan ada pergerakan 33 juta pemudik pada musim mudik Idul Fitri tahun ini. Pergerakan pemudik sebagian besarterjadi wilayah Jawa. Sementara itu, ribuan kendaraan sudah mulai memadati jalur tol Cipali dan jalur Selatan Malangbong, pengemudi diminta ekstra hati-hati untuk menghindari kecelakaan saat puncak arus mudik mulai (H-2) atau besok (23/6).

Direktur IDEAS Yusuf Wibisono‎ mengatakan, ‎dari riset IDEAS tentang pola migrasi dan pertumbuhan 20 wilayah aglomerasi di seluruh Indonesia, diproyeksikan tahun ini akan terdapat potensi 33 juta pemudik. “Potensi pemudik 2017 sebesar 33,0 juta orang ini tersebar di 20 wilayah aglomerasi di seluruh Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (21/6).

‎Menurut Yusuf, secara geografis, mudik adalah fenomena yang mayoritas terjadi di Pulau Jawa. Pasalnya potensi daerah asal pemudik terbesar dari Jawa, sekitar 68 persen dari total pemudik. Selain itu, potensi daerah tujuan pemudik terbesar juga menuju ke Jawa, sekitar 65 persen dari total pemudik. “Dengan kata lain, sebagian besar pemudik berasal dari Jawa dan menuju Jawa,” tutur dia.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa jumlah pemudik pada 2017 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun lalu. Dalam hitungan Kementerian Perhubungan, peningkatan tersebut mencapai 8,5%.

Hal itu diungkapkan oleh Menhub saat melakukan kunjungan kerja untuk memantau sarana dan prasarana angkutan Lebaran 2017 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Sabtu, 17 Juni 2017. “Jumlah pemudik untuk musim Lebaran 2017 itu diperkirakan ada di angka 19 juta pemudik, atau naik sekitar 8,5 persen dari tahun 2016 yang tercatat 18 juta pemudik,” kata Budi Karya.

Kepadatan di Tol Cipali

Sementara itu, ribuan kendaraan mulai memasuki tol Cipali. Ini terlihat dari adanya antrean sejauh 2 km dari Gerbang Tol Palimanan. Pantauan di lokasi, antrean di GT Palimanan mengular hingga 1 km ke belakang. Petugas baik polisi maupun pengelola Cipali terjun langsung untuk mengatur kelancaran arus lalu lintas.

Kasatlantas Polres Cirebon AKP Achmad Troy menyebutkan, memasuki H-4 lalu lintas arus mudik di Cipali terpantau mulai ramai. “Info dari Jakarta dan Tol Cikopo bahwa kendaraan dari Jakarta menuju Jawa Tengah sudah padat,” ujarnya seperti dikutip laman Liputan6.com.

Menurut Troy, timbulnya antrean hingga lebih dari 1 km tersebut karena banyak kendaraan yang berhenti di rest area kecil KM 191. Sebagian besar pemudik yang berhenti di rest area tersebut untuk mampir salat dhuhur.

Dari kondisi tersebut, polisi dengan terpaksa menutup rest area kecil. Selanjutnya, pemudik yang berhenti dipindahkan ke rest area KM 207. “Kami pindahkan 15 km di depannya dengan posisi rest area lebih besar dan memadai,” ujarnya.

Troy mengatakan, antrean kendaraan tersebut terbilang masih bisa diatasi. Karena itu, polisi masih belum memberlakukan pengalihan arus. Menurut dia, rekayasa lalu lintas dilakukan apabila terjadiantre lebih dari 5 km. Kendaraan akan dialihkan ke GT Sumberjaya dan GT Kertajati, setelah itu diarahkan ke arteri.

“Apabila masih bisa menampung akan diarahkan kembali di pintu tol terdekat. Apabila tidak menampung akan diarahkan ke arteri hingga ke Losari,” ujarnya.

Pantauan di lokasi, sejak pukul 11.00 WIB, ribuan kendaraan yang didominasi oleh mobil pribadi mulai antre untuk keluar GT Palimanan ke arah Jawa Tengah. Pemudik juga mulai mengeluh lantaran waktu tempuh yang semakin lama. Jika biasanya waktu tempuh dari Jakarta ke Cirebon hanya 3 jam perjalanan, saat ini waktu tempuh sudah mencapai 6 jam perjalanan.

Sejak dibuka dan dioperasionalkan pada Senin sore, 19 Juni 2017, Tol Fungsional Brebes Timur – Gringsing, Batang, sepanjang sekitar 105 kilometer langsung menjadi primadona para pemudik.

Hingga hari kedua ini, sudah belasan ribu kendaraan mobil pribadi melintas di ruas tol fungsional yang hanya dilapisi cair beton tipis setebal 10 sentimeter. Para pemudik yang menggunakan jalur ini diingatkan untuk tidak melajukan kendaraan melebihi 40 km per jam. Pasalnya, masih banyak ruas jalan dengan kanan kiri tanah berdebu.

Memasuki tiga hari jelang Lebaran, arus lalu lintas dari arah Jakarta menuju ke Jawa Tengah, baik melalui tol dan jalur tengah Pejagan-Prupuk hingga ke flyover Dermoleng dan Pantura, terpantau mulai padat.

Pemudik yang menggunakan sepeda motor juga terlihat lebih banyak dibandingkan dengan hari sebelumnya. Sementara, kendaraan pribadi yang melintas dari arah Pejagan-Pemalang lebih memilih meneruskan perjalanan melalui tol fungsional hingga ke Gringsing Batang.

“Informasinya kalau lewat tol fungsional lebih cepat, hanya tiga jam dari Brexit hingga Gringsing. Makanya saya coba lewat sini,” ucap Darmadi (45), seorang pemudik dari Jakarta.

Di sisi lain, kondisi jalan tol fungsional yang belum sempurna itu menimbulkan debu saat dilalui. Kondisi tersebut tak terlalu membahayakan jika siang.”Harapannya ada petugas yang menyiram jalan di titik-titik ruas tol yang banyak debu. Karena kalau malam, dengan kondisi berdebu itu bahaya,” ujanya.

Hal serupa diungkapkan pemudik lainnya, Sanusi (39). Selain berdebu, kata dia, kondisi ruas tol fungsional permukaan jalannya juga bergelombang dan tidak rata. Sehingga, laju kendaraan tidak disarankan melebihi 60 km per jam.

“Kalau ngebut di sini, bahaya. Mobil bisa keluar jalur. Ya memang rekomendasinya laju kendaraan hanya 40 km per jam. Tapi kalau lengang seperti ini, ya bolehlah tambah sedikit kecepatannya,” ucap Sanusi.

Antrean parah kendaraan pemudik juga terlihat di jalur selatan Jawa Barat, dariLimbangan hingga Malangbong, mengular hingga 17 kilometer (KM). Bahkan ekor kemacetan parah ini sudah mencapai kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Kabid Teknik Sarana dan Prasarana Dishub Garut, Nandi, mengatakan dari hasil pantauan di lapangan, diketahui kemacetan terjadi mulai Limbangan sampai Malangbong. Banyaknya tikungan serta aktivitas warga di sejumlah pasar tumpah menjadi penyebabnya. “Memang sudah mulai pada, dari pantauan kami kemacetan sudah sampai Malangbong, bahkan di depan Posko Dishub saja kendaraan sudah tidak bergerak,” ujarnya, Rabu (21/6). bari/mohar/fba