Utopia Kekebalan Kelompok Melalui Vaksinasi

Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS (Institute for Demographic and Poverty Studies)

Serangan gelombang kedua pandemi Covid-19 menjadi pelajaran sangat pahit bagi Indonesia, yang sejak awal memilih berfokus pada ekonomi dibandingkan kesehatan, sehingga menggantungkan diri pada vaksinasi untuk memperoleh kekebalan kelompok (herd-immunity) dan keluar dari pandemi.

Vaksinasi itu penting untuk mencegah fatalitas dari Covid-19. Tapi vaksin yang ada saat ini tidak cukup mampu mencegah risiko penularan virus. Bergantung hanya pada vaksinasi sebagai jalan keluar dari pandemi merupakan pilihan kebijakan yang berisiko tinggi.

Kekebalan kelompok terjadi ketika transmisi virus akan terhenti saat sebagian besar populasi telah mendapat imunitas, baik secara alami melalui eksposur ke virus di masa lalu maupun vaksinasi. Kekebalan kelompok melalui vaksinasi massal terhadap 60-70 persen populasi menawarkan jalan keluar dari pandemi dan kembali ke kehidupan normal. Namun berbagai fakta mutakhir menunjukkan bahwa ambang batas kekebalan kelompok ini tampaknya tidak akan pernah bisa dicapai meski kebijakan vaksinasi massal telah diadopsi secara optimal.

Dalam peta jalan awal pemerintah, skenario kekebalan kelompok akan diraih dengan memvaksin 181,5 juta penduduk, yaitu penduduk berusia 18 tahun ke atas setelah dikurangi 7,2 juta orang yang tidak bisa divaksin. Skenario ini menggunakan asumsi yang sangat ketat, yaitu tingkat efikasi vaksin 60 persen dan cakupan vaksinasi 67 persen populasi. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kini vaksin juga direkomendasi untuk orang berusia 12-17 tahun. Maka, diperkirakan penduduk yang harus divaksin akan menembus angka 200 juta orang atau sekitar 74 persen populasi.

Kekebalan kelompok hanya relevan jika kita memiliki vaksin yang memblokir transmisi. Meskipun vaksin sangat membantu mencegah pemburukan kondisi akibat virus, vaksin yang kini tersedia tidak cukup mampu mencegah orang terinfeksi dan menyebarkan virus ke orang lain. Terlebih lagi dengan kehadiran varian virus baru yang jauh lebih menular.

Dalam skenario pemerintah, dengan cakupan vaksinasi di kisaran 74 persen populasi dan menggunakan asumsi daya penularan virus (R0) 2,5 untuk varian awal di Wuhan saja, seharusnya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin setidaknya 80 persen. Jika kita gunakan R0 yang lebih realistis, katakanlah 3,0; dan cakupan vaksinasi 74 persen populasi, dibutuhkan tingkat efikasi vaksin yang sangat tinggi, setidaknya 90 persen, untuk meraih kekebalan kelompok.

Apalagi dengan kehadiran varian baru yang jauh lebih menular, seperti alfa (R0 = 4,5) dan delta (R0 = 6,5), kita membutuhkan vaksin dengan efikasi sangat tinggi sekaligus cakupan vaksinasi yang sangat luas. Untuk R0 = 4,5 setidaknya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin 85 persen dengan cakupan vaksinasi 92 persen populasi. Adapun untuk R0 = 6,5 setidaknya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin 90 persen dengan cakupan vaksinasi 94 persen populasi. Ini target yang nyaris mustahil diraih di tengah berbagai keterbatasan. Kendala pasokan dan distribusi, yaitu ketersediaan vaksin impor dan kecepatan vaksinasi yang rendah, dipastikan membuat skenario kekebalan kelompok akan sangat sulit tercapai.

Tantangan besar lain adalah struktur geografis. Upaya vaksinasi Covid-19 sebelumnya menunjukkan imunitas cenderung akan terkonsentrasi secara geografis. Resistansi lokal terhadap vaksinasi akan menghasilkan daerah kantong penyakit endemik. Meski suatu daerah telah memiliki tingkat vaksinasi tinggi, seperti DKI Jakarta, jika daerah sekelilingnya tidak memiliki hal yang sama, potensi ledakan penularan wabah tetap tidak akan hilang ketika penduduk bercampur. Idealnya, kecepatan vaksinasi itu merata antar daerah dan resistansi lokal dapat diatasi secara bersamaan.

Andaikan vaksin dapat terdistribusi secara merata, kekebalan kelompok tetap sulit tercapai seiring dengan munculnya varian virus baru yang lebih menular dan resistan terhadap vaksin. Vaksinasi massal secara cepat dan merata akan mencegah peluang munculnya varian baru. Sebaliknya, vaksinasi massal yang jauh dari sempurna akan menciptakan lahan yang kondusif bagi munculnya varian baru, sebagaimana kemunculan varian alfa dan delta. Vaksinasi yang lambat di tengah penularan virus yang tidak terkendali serta serangan varian baru yang lebih menular menjadi lahan subur bagi evolusi virus untuk menembus imunitas dan menjadi varian baru yang lebih resistan terhadap vaksin (immunity escape).

Kompleksitas mencapai kekebalan kelompok ini diperparah oleh fakta bahwa imunitas populasi baik, baik yang berasal dari vaksin maupun infeksi sebelumnya, tidaklah bertahan selamanya. Antibodi yang dihasilkan dari vaksin Sinovac, misalnya, diperkirakan menurun di bawah ambang batas setelah enam bulan. Hal ini ditunjukkan pula oleh fenomena reinfeksi, yaitu penyintas yang kembali terinfeksi Covid-19.

Vaksinasi untuk kekebalan kelompok dan memutus transmisi virus dalam jangka pendek adalah utopia. Dengan virus yang masih belum akan hilang dalam waktu lama, kita membutuhkan akselerasi vaksinasi, terutama pada kelompok usia rentan, untuk mencegah membeludaknya perawatan di rumah sakit dan menurunkan angka kematian.

Dengan tertutupnya peluang meraih kekebalan kelompok dari vaksinasi massal, intervensi non-farmasi menjadi signifikan dan akan terus memainkan peran krusial dalam menekan penularan dan memutus transmisi virus. Intervensi non-farmasi skala besar (lockdown) yang dilakukan secara sistematis bersamaan dengan kebijakan containment (testing, tracing, dan treatment) yang agresif, terbukti paling efektif menghentikan dan memutus transmisi virus.

Karena itu, mengingat keterbatasan vaksinasi dan manfaat kesehatannya yang jauh melebihi biaya sosial-ekonominya, kini saatnya intervensi non-farmasi dan kebijakan containment diadopsi dan diimplementasikan secara serius oleh pemerintah. Indonesia selama ini bersikap setengah hati dalam menggunakan intervensi non-farmasi, yaitu partial lockdown, dan digunakan sekadar untuk menahan laju kasus, menurunkan beban rumah sakit dan menekan laju angka kematian pada tingkat yang dapat diterima, untuk kemudian melonggarkan kembali pembatasan.

Akibatnya, strategi ini tidak memberi titik akhir yang jelas dan rentan terhadap serangan wabah berikutnya. Ketidakpastian yang timbul dari terus meningkatnya kasus infeksi dan serangan kembali virus membuat mimpi kembali ke kehidupan normal semakin menjauh. Dilema antara kesehatan dan ekonomi telah membuat kita terjebak pada siklus infeksi virus berulang dengan kerusakan ekonomi yang semakin masif.

Kini saatnya kita mengakhiri kebebalan ini. Kita tidak akan bisa keluar dari pandemi ini hanya dengan mengandalkan vaksinasi dan berharap pada kekebalan kelompok. Dibutuhkan perubahan kebijakan yang drastis untuk memutus transmisi virus, mencegah ledakan infeksi berikutnya, dan menekan kematian, terutama di pedesaan dan luar Jawa. Tidak banyak waktu yang tersedia untuk mencegah serangan gelombang ketiga.

Desperate times ask desperate measures.


Artikel asli: //koran.tempo.co/read/opini/467199/mengapa-kekebalan-kelompok-melalui-vaksinasi-adalah-utopia-dan-intervensi-non-farmasi-menjadi-penting