Menghapus Kemiskinan Ekstrem

Kemiskinan di Indonesia didominasi oleh penduduk miskin temporer (transient poor), yaitu mampu keluar dari kemiskinan namun mudah kembali jatuh miskin. Kami memperkirakan penduduk miskin temporer ini adalah mereak yang berada di antara 0,8 – 1,2 garis kemiskinan. Pada 2019-2021, penduduk miskin temporer ini kami perkirakan berjumlah 13,77 – 14,43 persen, setara 36,7 – 39,1 juta orang.

 

Kemiskinan yang lebih kecil namun dengan masalah yang jauh lebih berat adalah penduduk miskin kronis (chronic poor), yaitu mereka yang terlalu miskin sehingga tidak pernah mampu bangkit dan terperangkap dalam jerat kemiskinan untuk waktu yang panjang, bahkan permanen. Dengan kata lain, ini adalah kondisi kemiskinan yang ekstrem (extreme poverty). Kami memperkirakan penduduk miskin ekstrem ini adalah mereka yang berada di bawah 0,8 garis kemiskinan. Pada 2019-2021, penduduk miskin kronis ini kami perkirakan berjumlah 3,07 – 3,48 persen, setara 8,2 – 9,4 juta orang.

 

Penduduk miskin ekstrem terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. Dari 9,4 juta penduduk miskin ekstrem pada 2021, setengah diantaranya berada di Jawa dan hampir seperempat diantaranya di Sumatera. Kantong kemiskinan ekstrem nasional di dominasi daerah dengan penduduk besar di Jawa dan Sumatera seperti Kab. Bogor, Kab. Cianjur dan Kab. Aceh Utara. Namun masalah kemiskinan ekstrem yang lebih sulit ditemui di luar Jawa, terutama kawasan timur Indonesia, seperti Kab. Dogiyai dan Kab. Mappi, dimana tingkat kemiskinan ekstrem sangat tinggi.