Ruang kerja peneliti dan kontributor IDEAS.
KONTAK
SOSIAL MEDIA
Pending
Masih dalam proses approval

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.

Policy brief ini mengevaluasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum efisien karena menggunakan pendekatan universal. IDEAS berpendapat bahwa penerima manfaat justru terkonsentrasi di wilayah padat penduduk yang relatif tidak menghadapi persoalan gizi serius, sehingga alokasi anggaran menjadi kurang tepat sasaran.
IDEAS merekomendasikan reformasi MBG melalui geographical targeting, dengan memfokuskan program pada 169 daerah prioritas yang memiliki kerawanan pangan lebih tinggi. Pendekatan ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kebutuhan anggaran secara signifikan tanpa mengurangi dampak terhadap peningkatan gizi anak.